Dasar Hukum Pendidikan Agama di Perguruan Tinggi

Pendidikan Agama Islam

Dasar, Tujuan dan Eksistensinya di Perguruan Tinggi

 

 

  1. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Salam Berprstasi untuk anda para Mahasiswa, kali ini kita akan mengkaji tentang dan mengetahui Dasar hukum Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi. Pembahasan seputar Islam dalam Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat menarik terutama dalam  kaitannya dengan  upaya   pembangunan   sumber   daya manusia. Dapat dimengerti bahwa semua negara di dunia pada saat ini berada dalam era globalisasi begitu pula Indonesia. Hal ini setidaknya ditandai oleh tiga indikator sekaligus dalam perikehidupan manusia di dunia yaitu semakin transparan, mengglobal, dan kompetitif. Dalam era ini tidak mengenal adanya batas geografi antar negara, yang tak mampu lagi membendung distribusi informasi yang semakin beragam, baik jenis serta kualitasnya. Sehingga pagar-pagar budaya bangsa akan semakin merapuh dalam menangkal datangnya kultur-kultur bangsa lain. Oleh sebab itu diperlukan adanya daya selektivitas pada diri bangsa Indonesia terhadap masuknya budaya dari luar.

Hal ini merupakan hegemoni dan pengaruh kekuasaan suatu negara atas bangsa lain yang bukan hanya pada aspek ekonomi, intelektual, sosial, budaya dan sains teknologi yang secara langsung maupun tidak langsung menumbuhkan nilai-nilai baru yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia ataupun agama, sebagai contoh adalah merebaknya nilai pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Sehingga budaya yang seperti ini, akan mempengaruhi pada pola pikir, sikap dan perilaku atau gaya hidup yang akan teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari.[1]

Pendidikan  merupakan  proses  budaya  untuk  meningkatkan  harkat dan martabat manusia, dan berlangsung sepanjang hayat, yang dilaksanakan di  lingkungan  keluarga,  sekolah  dan  masyarakat.  Karena  itu,  pendidikan merupakan   tanggug   jawab   bersama   antara   keluarga,   masyarakat   dan pemerintah.  Pendidikan  dalam  proses  mencapai  tujaunnya  perlu  dikelola dalam suatu sistem terpadu dan serasi.[2]

Pendidikan berasal dari bahasa inggris, education (pendidikan) berasal dari kata educate (mendidik) artinya memberi peringatan (to elicit, to give rise to), dan mengembangkan (to evolve, to develop). Dalam perkembangannya istilah pendidikan berarti bimbingan atau  pertolongan yang diberikan dengan sengaja terhadap anak didik oleh dewasa agar ia menjadi dewasa.[3]

  1. Muhamad Daud Ali, berpendapat bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh manusia untuk mengembangkan potensi manusia lain atau memindahkan nilai-nilai yang dimilikinya kepada orang lain dalam masyarakat. Proses pemindahan  nilai  itu  dapat  dilakukan  dengan  berbagai cara,   di   antaranya   adalah:   Pertama, melalui   pengajaran   yaitu   proses pemindahan  nilai  berupa  (Ilmu)  pengetahuan  dari  seorang  guru  kepada murid-muridnya  dari suatu generasi kegenerasi berikutnya. Kedua,  melalui pelatihan   yang    dilaksanakan dengan jalan membiasakan seseorang melakukan pekerjaan tertentu untuk memperoleh keterampilan mengerjakan pekerjaan  tersebut.      Ketiga, melalui  indoktrinnasi  yang  diselenggarakan agar orang meniru atau mengikuti apa saja yang diajarkan orang lain tanpa mengijinkan sipenerima tersebut  mempertanyakan nilai-nilai yang diajarkan.[4]
  2. Nasir A.   Baki, mendefinisikan  pendidikan  sebagai  usaha  meningkatkan  potensi  diri  dari segala   aspek,   baik   menyangkut   pendidikan   formal,   informal   maupun pendidikan non formal.[5]

Dalam  Khasanah Pendidikan Islam, Pengertian Pendidikan, Pada umumnya mengacu kepada term, al-tarbiya, al-ta’dib, dan al-ta’lim. Dari ketiga istilah tersebut term yang popular digunakan dalam praktek pendidikan Islam adalah al-tarbiyah. Dalam buku Arifuddin Arif disebutkan : Adapun pengertian pendidikan Islam yang dikandung dalam term al-tarbiyah terdiri atas empat unsur pendekatan, yaitu : (1) memelihara dan menjaga fitrah peserta didik menjelang dewasa, (2) mengembangkan seluruh potensi menuju kesempurnaan, (3) mengarahkan seluruh fitrah menuju kesempurnaan, dan (4) melakukan pendidikan secara bertahap.[6]

Pendidikan agama merupakan upaya sadar untuk mentaati ketentuan Allah sebagai guidance dan dasar para peserta didik agar berpengetahuan keagamaan dan handal dalam menjalankan ketentuan-ketentuan Allah secara keseluruhan. Sebagian dari ketentuan-ketentuan Allah itu adalah memahami hukum-hukum-Nya di bumi ini yang disebut dengan ayat-ayat kauniyah. Ayat-ayat kauniyah itu dalam aktualisasinya akan bermakna Sunanatullah (hukum-hukum Tuhan) yang terdapat di alam semesta. Dalam ayat-ayat kauniyah itu terdapat ketentuan Allah yang berlaku sepenuhnya bagi alam semesta dan melahirkan ketertiban hubungan antara benda-benda yang ada di alam raya.[7]

Untuk memahami hukum-hukum Tuhan itu, manusia perlu menggunakan akalnya yang dibimbing oleh tauhid sebagai pembeda manusia dengan makhluk lain (QS. 7:199). Karena itu pula hanya manusia yang dipersiapkan oleh Allah menjadi khalifah di muka bumi (QS. 2:30).

Pengertian Pendidikan Agama Islam secara formal dalam kurikulum berbasis kompetensi disebutkan bahwa :Pendidikan Agama Islam adalah  usaha sadar terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani, bertaqwa, dan berakhlaq mulia dan mengamalkan ajaran Agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al-qur’an dan Hadits, melalui kegiatan bimbingan  pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman. Dibarengi tuntunan untuk menghormati penganut agama dalam masyarakat hingga terwujudnya kesatuan dan persatuan bangsa.[8]

Dalam Peraturan Pemerintah RI   No. 55 Tahun 2007 Bab I Pasal 1

dijelaskan  bahwa  Pendidikan  agama  adalah  pendidikan  yang  memberikan pengetahuan  dan  membentuk  sikap,  kepribadian,  dan  keterampilan  peserta didik  dalam  mengamalkan  ajaran  agamanya,  yang  dilaksanakan  sekurang- kurangnya  melalui  mata  pelajaran/kuliah  pada  semua  jalur,  jenjang,  dan jenis pendidikan. Sedangkan pendidikan keagamaan adalah pendidikan yang mempersiapkan   peserta   didik   untuk   dapat   menjalankan   peranan   yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan/atau  menjadi ahli ilmu agama dan mengamalkan ajaran agamanya.[9]

 

Jadi  Pendidikan  Agama  Islam  adalah  usaha  yang  berupa  pengajaran, bimbingan dan asuhan terhadap anak agar kelak selesai pendidikannya dapat memahami,       menghayati,     dan      mengamalkan     agama  Islam,  serta menjadikannya  sebagai  jalan  kehidupan,  baik  pribadi  maupun  kehidupan masyarakat.[10]

 

  1. Dasar Pendidikan Agama Islam

Setiap aktivitas yang disengaja untuk mencapai suatu tujuan harus mempunyai dasar atau landasan untuk berpijak yang kokoh dan kuat. Dasar adalah pangkal tolak suatu aktifitas. Di dalam menetapkan dasar suatu aktifitas manusia selalu berpedoman kepada pandangan hidup dan hukum-hukum dasar yang dianutnya, karena hal ini yang akan menjadi pegangan dasar yang dianutnya. Apabila pandangan hidup dan dasar hukum yang dianutnya berbeda, maka berbeda pulalah dasar dan tujuan aktifitasnya.[11]

Dasar adalah landasan untuk berdirinya sesuatu. Fungsi dasar adalah memberikan arah kepada tujuan yang akan dicapai dan sekaligus sebagai landasan untuk berdirinya sesuatu.[12]

 

  1. Tujuan Pendidikan Agama Islam
  2. Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi

Pendidikan Agama Islam (PAI) di Perguruan Tinggi Umum (PTU) merupakan kelanjutan dari pengajaran yang diterima oleh peserta didik mulai dari Tingkat Dasar, Sekolah Menegah Pertama dan Atas. Namun berbagai persoalan muncul dalam proses pembelajaran PAI. Materi yang diajarkan boleh dikatakan sama secara nasional. Banyaknya materi ajar dan kurang berfariasinya pengajar dalam menyampaikannya, ditambah lagi dengan alokasi waktu yang kurang memadai, menjadikan peserta didik (mahasiswa) kurang bergairah dalam menyerap perkuliahan. Kesan yang sering muncul di kalangan mahasiswa adalah mata kuliah “wajib lulus” ini seakan berubah menjadi “wajib diluluskan” karena kalau tidak lulus akan menjadi hambatan bagi mata kuliah di atasnya. Secara sederhana bisa juga dikatakan bahwa mahasiswa “wajib lulus” dan sang dosen “wajib meluluskan”.

Melihat perubahan pola pikir mahasiswa dan berkembangnya ilmu pengetahuan, perlu berbagai upaya untuk untuk mengoptimalkan buku IDI (Islam dan Disiplin Ilmu), perlu pengembangan PAI melalui pendekatan ilmu yang ditekuni oleh masing-masing program studi mahasiswa dengan melihat masing-masing sub pokok bahasan melalui disiplin ilmu tertentu sebagai pengayaan PAI di PTU. Untuk mahasiswa Politeknik, hal ini dirasakan masih belum memadai dan perlu dikembangkan.

 

 

 

  1. Paradigma Baru Pendidikan Agama Sebagai Mata Kuliah Pengembang Kepribadian

Dalam era global dan teknik informasi yang sarat dengan masalah-masalah etis dan moral ini, masyarakat Indonesia khususnya kaum muda memerlukan pengenalan yang benar akan nilai-nilai kemanusiaan diri. Lee Kuan Yew mengatakan “Kita telah meninggalkan masa lalu dan selalu ada kekhawatiran bahwa tak akan ada sesuatu yang tersisa dalam diri kita yang merupakan bagian dari warisan masa silam”. Selain pengenalan yang benar akan kemanusiaan diri orang muda juga membutuhkan suatu pendasaran moral yang benar untuk pembentukan tingkah laku. Perlu ada perobahan sikap mental yang drastis dalam masyarakat Indonesia yang yang penuh dengan pelbagai krisis moral, etis, dan spiritual.

Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah agama. Kebudayaan nasional modern Indonesia sekarang haruslah didasarkan kepada prinsip-prinsip dan nilai-nilai agama yang spiritual dan religious. Seperti dikemukakan sebelumnya, jati diri dan pendasaran moral yang benar tentunya berasal dari agama dan pendidikan agama. Pendidikan Agama di perguruan tinggi seharusnya merupakan pendamping pada mahasiswa agar bertumbuh dan kokoh dalam karakter agamaisnya sehingga ia dapat tumbuh sebagai cendekiawan yang tinggi moralnya dalam mewujudkan keberadaannya di tengah masyarakat. Tetapi kenyataan sekarang ini, lembaga-lembaga pendidikan tinggi belum sepenuhnya berhasil dalam tugas pembentukan tenaga profesional yang spiritual. Setelah era reformasi muncul “kesadaran baru” bahwa pendidikan secara umum dan pendidikan agama khususnya “kurang berhasil” dalam pengembangan moral dan pembentukan perilaku mahasiswa, dalam mengantisipasi masalah-masalah etis dan moral era global dan teknik informasi.

 

  1. Kedudukan Pendidikan Agama di Perguruan Tinggi

Peran penting agama atau nilai-nilai agama dalam bahasan ini berfokus pada lingkungan lembaga pendidikan, khususnya perguruan tinggi. Salah satu mata kuliah dalam lembaga pendidikan di perguruan tinggi, yang sangat berkaitan dengan perkembangan moral dan perilaku adalah Pendidikan Agama. Mata kuliah Pendidikan Agama pada perguruan tinggi termasuk ke dalam kelompok MKU (Mata Kuliah Umum) yaitu kelompok mata kuliah yang menunjang pembentukan kepribadian dan sikap sebagai bekal mahasiswa memasuki kehidupan bermasyarakat. Mata kuliah ini merupakan pendamping bagi mahasiswa agar bertumbuh dan kokoh dalam moral dan karakter agamaisnya sehingga ia dapat berkembang menjadi cendekiawan yang tinggi moralnya dalam mewujudkan keberadaannya di tengah masyarakat.

 

  1. Paradigma Baru dalam Pendidikan Agama

Kenyataan tersebut di atas mendorong pihak-pihak yang perduli akan pendidikan untuk mencari paradigma-paradigma baru yang sesuai dengan tuntutan jaman. Tidak mengherankan jika salah satu topik yang ramai dibicarakan dalam bidang pendidikan baik di Indonesia maupun dunia adalah exellent school educatioan, yang tidak saja mengevaluasi ulang materi pembelajaran, sumber daya manusia dalam memberi pembelajaran, tetapi juga metode pembelajaran. Bahkan komisi internasional dunia yaitu The International Commission on Education for the Twenty First Century, dipimpin oleh Jacques Delors, lewat laporannya yang berjudul “Learning the Treasure Within”, merekomendasikan agar proses pembelajaran di seluruh dunia pada abad ini ini diselenggarakan berdasarkan 4 pilar. Keempat pilar itu adalah:

  • learning to know,
  • learning to do,
  • learning to be,
  • dan learning to live together.

Rekomendasi ini sangat mempengaruhi restrukturisasi kurikulum pendidikan di Indonesia yang dibutuhkan demi terjadinya suatu pembenahan. SK Mendiknas No.232/U/2000 dan No.045/U/2002 memperlihatkan terjadinya restrukturisasi yang dimaksud. Dalam kurikulum ini Pendidikan Agama menjadi salah satu mata kuliah dalam kelompok MPK (Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian). Dan dalam kurikulum yang direstrukturisasi ini dipergunakan pendekatan baru yang dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang sangat mengedepankan kompetensi setiap mata kuliah di perguruan tinggi.

Dalam SK No.43/DIKTI/Kep. 2006 tercantum rambu-rambu pelaksanaan MPK ini di Perguruan Tinggi, khususnya rumusan visi, misi, standar kompetensi, dan kompetensi dasar. Visi dan misi MPK memberi penekanan kepada pemantapan kepribadian mahasiswa sebagai manusia Indonesia seutuhnya, yang secara konsisten mampu mewujudkan nilai-nilai dasar keagamaan dan kebudayaan.

Kompetensi dasar Pendidikan Agama adalah menjadi ilmuwan :

  • yang professional,
  • beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
  • berakhlak mulia,
  • memiliki etos kerja,
  • berkepribadian dewasa, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan.
  1. Tujuan Pendidikan Agama di Perguruan Tinggi

Tujuan mata kuliah Pendidikan Agama pada Perguruan Tinggi ini amat sesuai dengan dasar dan tujuan pendidikan nasional dan pembangunan nasional. GBHN 1988 menggariskan bahwa pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila “bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, bertanggung jawab, mandiri, cerdas, terampil serta sehat jasmani dan rohani… dengan demikian pendidikan nasional akan membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa”.

Kualitas manusia yang ingin dicapai adalah kualitas seutuhnya yang mencakup tidak saja aspek rasio, intelek atau akal budinya dan aspek fisik atau jasmaninya, tetapi juga aspek psikis atau mentalnya, aspek sosial yaitu dalam hubungannya dengan sesama manusia lain dalam masyarakat dan lingkungannya, serta aspek spiritual yaitu dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pencipta. Pendidikan Tinggi merupakan arasy tertinggi dalam keseluruhan usaha pendidikan nasional dengan tujuan menghasilkan sarjana-sarjana yang profesional, yang bukan saja berpengetahuan luas dan ahli serta terampil dalam bidangnya, serta kritis, kreatif dan inovatif, tetapi juga beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berkepribadian nasional yang kuat, berdedikasi tinggi, mandiri dalam sikap hidup dan pengembangan dirinya, memiliki rasa solidaritas sosial yang tangguh dan berwawasan lingkungan. Pendidikan nasional yang seperti inilah yang diharapkan akan membawa bangsa kita kepada pencapaian tujuan pembangunan nasional yakni “…masyarakat adil dan makmur yang merata material dan spiritual…”.

Tujuan merupakan standar usaha yang dapat ditentukan, serta mengarahkan usaha yang akan dilalui dan merupakan titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lain. Di samping itu, tujuan dapat membatasi ruang gerak usaha, agar kegiatan dapat terfokus pada apa yang dicita-citakan dan yang terpenting lagi adalah dapat memberi penilaian pada usaha-usaha pendidikan.

Secara umum Zakiah Daradjat membagi tujuan Pendidikan Agama Islam menjadi empat macam, yaitu:

  1. Tujuan Umum

Tujuan umum adalah tujuan yang akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan, baik dengan pengajaran atau dengan cara lain.

  1. Tujuan Akhir

Tujuan akhir adalah tercapai wujud insan kamil¸ yaitu manusia yang telah mencapai ketakwaan dan menghadap Allah dalam ketakwaannya.

  1. Tujuan Sementara

Tujuan sementara adalah tujuan yang akan dicapai setelah anak diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal.

  1. Tujuan Operasional

Tujuan operasional adalah tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu.

 

Mata kuliah Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi juga memiliki visi dan misi tersendiri. Adapun visinya adalah menjadikan ajaran agama Islam sebagai sumber nilai dan pedoman yang mengantarkan mahasiswa dalam pengembangan profesi dan kepribadian Islam. Sedangkan misinya adalah untuk membina kepribadian mahasiswa secara utuh dengan harapan bahwa manusia kelak akan menjadi ilmuwan yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.

Tujuan umum PAI di PT adalah memberikan landasan pengembangan kepribadian kepada mahasiswa agar menjadi kaum intelektual yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berpikir filosofis, bersikap rasional, dan dinamis berpandangan luas, ikut serta dalam kerjasama antar umat beragama dalam rangka pengembangan dan pemanfaatan ilmu dan teknologi serta seni untuk kepentingan nasional.

Syahidin mengungkapkan tujuan khusus mata kuliah PAI di PT adalah sebagai berikut.

  1. Membentuk manusia bertakwa, yaitu manusia yang patuh dan takwa kepada Allah dalam menjalankan ibadah dengan menekankan pembinaan kepribadian muslim yakni pembinaan akhlakul karimah;
  2. Melahirkan para agamawan yang berilmu. Bukan para ilmuwan dalam bidang agama, artinya yang menjadi titik tekan PAI di PT adalah pelaksanaan agama di kalangan calon para intelektual yang ditunjukkan dengan adanya perubahan perilaku mahasiswa ke arah kesempurnaan akhlak;
  3. Tercapainya keimanan dan ketakwaan pada mahasiswa serta tercapainya kemampuan menjadikan ajaran agama sebagai landasan penggalian dan pengembangan disiplin ilmu yang ditekuninya. Oleh sebab itu, materi yang disajikan harus relevan dengan perkembangan pemikiran dunia mereka;
  4. Menumbuhsuburkan dan mengembangkan serta membentuk sikap positif dan disiplin serta cinta terhadap agama dalam pelbagai kehidupan peserta didik yang nantinya diharapkan menjadi manusia yang bertakwa kepada Allah, taat pada perintah Allah dan Rasul-Nya.

Dari beberapa uraian di atas, jelaslah bahwa keberadaan Mata Kuliah PAI di Perguruan Tinggi adalah sangat penting, yang mana bertujuan membina kepribadian mahasiswa secara utuh dengan harapan bahwa kelak akan menjadi ilmuwan yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, dan mampu mengabdikan ilmunya untuk kesejahteraan umat manusia

[1]

[2] Samrin, Pendidikan Agama Islam Dalam Sistem Endidikan Nasional Di Indonesia , Jurnal Al-Ta’dib Vol. 8 No. 1, Januari-Juni 2015, h.103

 

[3]  Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Kalam Mulia, 2006), h. 1

[4] Ahmad  D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam , ( Bandung : Al-Ma’arif, 1996), h. 166.

 

[5] Nasir A. Baki, Metode Pembelajaran Agama islam (dilengkapi Pembahasan Kurikulum 2013), (Jogjakarata : Eja_Publiser, 2014), h.5

 

[6] Arifuddin Arif, Pengantar Ilmu Pendidikan Islam, Cet, Pertama, (Jakarta: PT. Kultura, 2008), h. 25

[7] Abudinnnn

[8] Departemen Pendidikan Nasional, Kurikulum 2004 Standar Pendidikan Agama Islam Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah, (Jakarta : PT. Pusat kurikulum Balitbang Depdiknas, 2003),  h. 7

 

[9] Pemerintah Republik Indonesia, PP No. 55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan” http://sites.google.com/site/raraswurimiswandaruspdi/ (Diakses 28 Maret 2015)

 

[10] Aat Syafaat; Sohari Sahrani; Muslih, Peranan Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT. Raja

Grafindo Persada, 2008), h. 11-16

Dasar dan Tujuan PAI

[11] Su’udah, https://media.neliti.com/media/publications/104015-ID-kedudukan-dan-tujuan-pendidikan-agama-is.pdf.

 

[12] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam,(Jakarta : PT. Kalam Mulia, 2008), h. 121

Tulisan ini dipublikasikan di Materi Kuliah dan tag , , . Tandai permalink.

3 Responses to Dasar Hukum Pendidikan Agama di Perguruan Tinggi

  1. Muhammad fahmi berkata:

    NAMA: MUHAMMAD FAHMI
    KELAS: SEMESTER 1 REG
    NPM: 2019210046

    pemahaman: hamba Allah yang hanya tunduk dan taat kepada Allah dan kebenaran tidak pada yang lain. disamping peran manusia sebagai khalifah Allah dimuka bumi yang memiliki kebebasan, sekaligus pula sebagai hamba Allah (Abdullah) seorang hamba berarti orang yang taat dan patuh kepada perintah allah

  2. Muhammad fahmi berkata:

    Nama: Muhammad fahmi
    Npm : 2019210046
    Kelas: SEMESTER 1 REG

    pemahaman: hamba Allah yang hanya tunduk dan taat kepada Allah dan kebenaran tidak pada yang lain. disamping peran manusia sebagai khalifah Allah dimuka bumi yang memiliki kebebasan, sekaligus pula sebagai hamba Allah (Abdullah) seorang hamba berarti orang yang taat dan patuh kepada perintah allah

  3. Muhammad fahmi berkata:

    Nama: Muhammad fahmi
    Npm : 2019210046
    Kelas : SEMESTER 1 REG

    hamba Allah yang hanya tunduk dan taat kepada Allah dan kebenaran tidak pada yang lain. disamping peran manusia sebagai khalifah Allah dimuka bumi yang memiliki kebebasan, sekaligus pula sebagai hamba Allah (abdullah). seorang hamba berarti perintah Allah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *